Jumat, 02 April 2010

PERHAPS IAM DREAMING.......

Langit jingga mewarnai akhir dari hari senin ini. Membawa matahari kembali ke ufuk barat, dan membawa bulan muncul di antara bintang-bintang yang membuat indah malam ini. Walaupun begitu tak akan seindah hariku setiap harinya.
“JENNYYYYYYYY!!!!!!!”. Teriakan itu berasal dari sebuah rumah yang tak jauh dari tempat ku duduk melihat langit sekarang.
Dengan tenaga yang tersisa untuk hari ini, aku berjalan menuju rumah itu.
Terlihat sekali wajah marah dari orang yang tadi memamnggilku.
Auranya sangat tidak enak, sangat terasa saat aku melangkahkan kaki ke ruang tamu. Mendadak aku merinding dan seluruh keringat dinginku keluar, entah dari mana asalnya keringat yang keluar tiba-tiba ini.
“I,iya?” kata ku bergetar.
“sedang apa kau di luar? Cepat tidur!!!!!! Aku tidak mau kau mencoreng mukaku kalau mendapat surat ketrlambatanmu cepat masuk kamarmu!!!!!!” aku hanya menunduk tak berani memandang wajah bibi ketrine.
Bibi ketrine, adalah ibu tiriku. Entah bagaimana ceritanya ia bisa menikahi ayahku. Aku yang anaknya sendiri tidak tahu.
Dengan wajah nyaris merah bibi ketrine aku melangkah dengan ketakutan menuju kamar.
Sebenarnya bukan kamar. Melainkan sebuah gudang bawah tanah yang ku dekorasi. Tapi, tempat ini lebih baik, sepi dan tak ada teriakan-teriakan keras dari mulut Jered, dan Carol yang merengek manja dengan ibu mereka.
Ku rebahkan kepalaku di bantal yang cukup empuk. Walau tak mengantuk karena ini masih sore, aku pun mencoba untuk mengantukkan mataku dengan melamun melihat langit-langit kamarku, dan sedikit demi sedikit matakupun terpejam.

*****
Sepertinya aku baru saja tidur, tiba-tiba aku sudah berada di sebuah taman. Ehm sepertinya aku tahu taman ini. Tempat tadi aku melihat Sunset dan bintang-bintang. Sepertinya aku tidur sambil berjalan, buktinya aku sampai disini.
Aku mendongak ke atas dan melihat langit hari ini sangat indah, walau hanya dengan kelap-kelip bintang yang mampu menandingi sinarnya bulan. Di antara bintang-bintang itu, ada bintang yang sangat terang.
“bintang hari ini sangat banyak” aku menoleh kearah suara itu.
Terlihat seorang anak lelaki yang memakai piayama garis-garis biru. Aku belum pernah melihat anak itu di sekitar sini. Mungkin dia tetangga baru.
“tidak bisa tidur?” tanyanya lagi, akupun mengangguk.
“mungkin kita sama-sama mengidap syndrome insomnia” diapun terkekeh setelah mengatakan itu.
“ah, namaku james” dia menyodorkan tangannya yang putih pucat kepadaku. Akupun menjabatnya.
“namaku jenny, kau orang baru disini?” tanyaku akhirnya.
“ya, baru pindah dari boston, aku tidak menyangka disini panas sekali”.
Memang udara hari ini sangat panas, aku bisa merasakan panasnya udara walaupun aku sedang berada di bis sekolah tadi pagi.
“kau asli orang inggris?”
Anak bernama james itupun tersenyum dan mengangguk.
James adalah anak lelaki biasa dan sederhana itu menurut penglihatanku, lebih sederhana dari umurnya yang kira-kira sama denganku, 13 tahun. Terlihat dari perawakannya kalau dia mudah bergaul dengan teman-temannya.
Sepanjang malam yang panjang, kami saling bercerita tentang tempat tinggal kami masing-masing, ia menceritakan tentang bagaimana kebanggaan dia terhadap inggris, dan aku juga menceritakan bagaimana aku begitu saying dengan ibuku.
Untuk pertama kalinya aku bertemu orang yang mau berteman dengan aku, akupun bahagia dan berharap agar malam ini tak cepat berakhir.
Saat kami sedang asyik tertawa karena aku menceritakan tentang bibi ketrine , dan beberapa tipuan bagaimana cara untuk mengerjainya, tiba-tiba gelap.

BATH………

Mataku terbelalak. Aku sudah berada di tempat tidurku lagi. Di luar matahari sudah menyapa dengan sinarnya yang menyengat. Aku memicingkan mataku untuk menahan sinarnya yang masuk ke dalam kamarku, dan berjalan menuju jendela.
Ternyata aku hanya bermimpi. Anak bernama james itu hanya ada dalam mimpi, dan aku hanya bisa memimpikannya tadi malam.
Padahal dia teman pertama yang aku punya.
“ah, sudah waktunya” gumamku. Dengan terburu-buru aku menyuci muka dan membereskan barang-barang sekolahku, lalu berlari terburu-buru menuju halte bus yang berada tak terlalu jauh dengan rumahku.
Selama aku hidup, tak ada yang mau berteman denganku, kecuali james yang ada di mimpiku tadi malam, tidak pernah aku bermimpi tentang sesuatu yang tak pernah aku alami sebelumnya.
Aku mengatur nafasku kembali setelah sampai di halte bus. Untungnya busnya belum datang.
Kuperhatikan sekitarku.
Semuanya punya teman, hanya aku yang sendiri menunggu bus datang. Sendiri menunggu sambil memperhatikan orang-orang di sekitarku yang wajahnya begitu bahagia karena berlibur bersama keluarga mereka.
TENN………TENNNN………………..
Klakson bus membuatku sadar dari lamunanku. Dan seperti biasa aku berada di barisan paling depan dan memasuki bus paling pertama, lalu duduk di tempat terdepan.
Walaupun begitu, tak ada satupun orang yang memperhatikan aku. Akupun tak peduli dengan itu. life must go on what ever they are. Itulah mottoku.
*****
Aku sedang memandang lurus kearah langit yang mendung. Entah hujan akan turun atau tidak.
“apakah melamun adalah keputusan terakhirmu kawan?”.
Lagi-lagi suara itu. kali ini aku tidak terganggu,suara itu sepertisudah bertahun-tahun kukenal.
James berbaring di atas rumput di sampingku. “sepertinya tidak akan ada bintang malam ini james” kataku pesimis.
“sebegitu sedihkah, bila tak ada bintang?”katnya terkekeh, akupun ikut terkekeh mendengar suaranya yang manis.
“kalau melihatnya aku bisa merasakan kehanngatan ibu yang sudah tidak ada” kataku.
James membalikkan posisi tidurnya dan sekarang ia menghadapku, akupun tertarik untuk menghadapnya.
Tangan james yang kecil menutup mataku.
“bayangkan seperti apa yang kau inginkan, dan bagaimana keadaan langit yang kau inginkan, cukup memejamkan saja, jangan berkata apa-apa, hanya butuh imajinasi kau akan merasakan bagaimana indahnya itu”.
Aku menuruti kata-kata james.
Sedikit demi sedikit ku buka mataku. Dan aku benar-benar tak percaya apa yang aku lihat sekarng. Di atas ku bukan lagi langit yang mendung. Melainkan langit yang hitam lekat, dengan bulan yang benar-benar bulat tepat di depanku.
Juga banyak bintang-bintang disana-sini, persis apa yang aku bayangkan. Ada satu bintang yang sangat cerah, sampai mataku agak terpicing untuk melihatnya.
“james, itulah ibuku” kataku dengan berlinang airmata, sambil menunjuk bintang yang paling terang di antara para bintang.
“aku tahu jane,” wajah james sama berseri-serinya sepertiku.
“ kita sahabatkan?” kataku memastikan.
“tentu saja jenny, sejak kita pertama bertemu”. Kami berdua tersenyum bahagia, sampai aku mendengar ada yang memanggilku.
“kau memanggilku james?” jamespun menggeleng.
Suara itu makin lama makin keras. Dan kini terdengar sangat nyata.
“JENNY THOMKINS, MAU SAMPAI KAPAN KAU MAU TIDUR DISINI?”
Sekarang mataku terbelalak karena muka merah MR. Rise, dan aku baru menyadari kalau aku baru saja bangun dari tidurku. Yah, lagi-lagi aku bermimpi.
Akhirnya, aku mendapat hukuman membersihkan toilet. Sebenarnya hukumanku lebih ringan dari ini, karena hanya memanggil orang tuaku. Dan itu artinya bibi ketrine akan datang kemari dan berkhotbah satu hari penuh. Aku memohon pada MR. Rise untuk menambah hukumanku, apa saja akan ku lakukan agar bibi setan itu tidak datang. Dan inilah hukumannya.
Pikiran ku melayang. Baru beberapa waktu yang lalu aku berbaring di atas rumput dan memandang langit. Lalu james datang dan menutup mataku, saat ku buka mataku terpampang, apa yang sedang aku pikirkan.
Saat itu aku benar-benar bahagia. Tapi karena suara teriakan MR. Rise yang membangunkanku, semua jadi berantakan. Dan sekarang terpampanglah, toilet super kotor seantero sekolah PS 118.

Bibi ketrine tidak ada di rumah beserta adik-adik tiriku, kalau begini aku bisa bermain sampai kapan saja.
Kurasa bersepeda di pertengahan musim panas ini tidak ada salahnya. Segera kukeluarkan sepeda bututku dari gudang. Keadaannya masih bagus. Lalu mulai menggoes pelan-pelan sepedahku.
Terlihat mulai sepi di taman, tempat yang tepat untuk beristirahat dan menikmati indahnya hidup.
Aku tak peduli dengan keadaan rumah yang berantakan dan apa yang di katakan bibi ketrine nanti. Carol sudah cukup besar untuk merapikan kamarnya sendiri.
Dan kini aku butuh waktu untuk sendiri. Memikirkan banyak hal―segala hal yang bisa di pikirkan, proyektor otakkupun berjalan.
Mengingat kejadian akhir-akhir ini dan mengingat bagaimana aku bisa lahir. Sejak lahir, aku sudah tinggal bersama kakek dan nenek.
Ayah pergi ke Wales untuk bekerja, dan ibuku, meninggal saat melahirkanku.
Hidupku berjalan baik-baik saja tanpa teman, walau begitu, kakek dan nenekkuselalu setia menemani apapun kondisiku.
Malapetaka muncul saat ayah datang ke rumah kakek, dan membawa seorang wanita cantik beranak 2. dialah bibi ketrine.
Sejak pertama bertemu aku sudah tidak suka dengannya. Ternyata ketidaksukaanku terbukti saat tinggal bersamanya sampai sekarang.
Aku ingin hidup yang berbeda. Bisa memiliki teman, membicarakan apapun, berpetualang bersama dan menemukan sesuatu. Aku ingin seperti itu.


Masih duduk di tempatku yang tadi, masih terlihat sepeda yang kuparkir tak jauh dariku. Matahari masih setia menanti waktu malam dengan setia menyinari bumi ini.
Seorang anak laki-laki berjalan kearahku dengan tang memegang sebuah buku besar. Kalau dilihat dari jauh, terlihat lebih besar bukunya daripada orang yang membawa.
“hai” sapa anak itu.
“ hai james” sahutku.
“ melamun lagi?” katanya. Akupu terkekeh sebelum menjawab. “ yah, seperti itulah. Buku apa yang kau bawa james?”.
“ah, ini tentang astronomi”. Katanya berseri-seri.
“kau suka perbintangan ya?” dia hanya tersenyum bahagia.
Lalu kami sama-sama melihat kearah langit. Baru kusadari kalau hari sudah malam dan aku harus segera pulang.
“maaf james aku harus………” kata-kataku di potong.
“lihat itu ibumu jane” perhatianku mengarah ke atas langit yang sangat cerah.
Ada sebuah bintang yang sangat indah berkelap-kelip disana, mulutku tak henti-hentinya menggumam tentang keindahaan bintang di atas sana.
“dia memang ibuku”.
Kami membicarakan banyak hal tentang bintang. Luar biasa, james tahu seluk beluk tentang bintang. Aku hanya mengiyakan penjelasannya.
“kau punya impian jenny?” tanyanya tiba-tiba.
“tentu saja punya.”
“apa itu jenny?” wajahnya memancarkan keingintahuan yang besar.
“aku ingin punya teman” kataku sinkat. “aku ingin di ajak bicara, aku ingin bertukar pikiran, aku ingin di butuhkan, aku ingin berpetualang, bersenang-senang dan menangis bersama.”
James tersenyum manis. “karena semuanya tak akan pernah terjadi. Aku tidak punya impian apa-apa, anggap saja seperti itu.” lanjutku yang membuat wajah james kecewa.
Ia menyodorkan tangan kanannya kepadaku. “pegang tanganku, akan ku perlihatkan sesuatu, yang akan membuatmu percaya.”
Kuturuti kata-katanya dan kamipun berlari.
James terus berlari sambil menggandengku menuju suatu tempat.
“kita mau kemana?” kataku sedikit berteriak.
“ikuti saja” katanya.
Kami hampir 5 menit berlari tanpa arah.
Dan tiba-tiba berhenti di depan sebuah gang yang cukup besar, dan begitu ramai. James melirik kearahku dan akupun melirik kearahnya. Dengan senyum yang misterius, james mengajakku memasuki gang itu.
Gang ini ramai sekali walaupun berada di gang, toko ini sangat ramai, padahal juga hari sudah malam.
“aku baru tahu kalau di Massachusets, ada toko tengah malam seperti ini.” James tersenyum.
Hari ini, senyum james lain dari pada biasanya. Penuh arti yang tidak bisa ku jelaskan. Tapi, yang jelas, ia sangat bahagia sama seperti aku.
“hei jenny di sini ada roller coaster, mau naik?”. Aku berpikir sejenak. Aku sudah berada terlalu jauh dari rumah, tapi juga tidak ingin meninggalkan kesempatan langka yang tidak akan datang dua kali.
Aku tidak pedulilagi, aku hanya ingin bahagia. Dengan semangat dan senyum gembira aku menerima ajakan james.
Entah berapa tingginya roller coaster itu, sampai bisa membuatku berterika-teriak gembira bersama james.
Tempat ini lebih tepat di namai taman ria yang terselip di gang yang tak ada satupun orang yang tahu.
James dan aku bergantian memainkan beberapa permainan di sana. Aku lupa semua tentang pekerjaanku yang menumpuk dirumah, omelan dan muka marah bibi ketrine, dan kesepiannya tidak punya teman, tiba-tiba saja di tempat ini semuanya lenyap.
“bagaimana? Kau bahagia?” Tanya james setelah kita menaiki wahana terkhir dan sedang bejalan keluar dari gang itu.
“ it’s amazing james.!!!!!”
James tertawa melihatku, begitu pula sebaliknya.
“yah aku juga ikut bahagia”
Suara ramai di gang itupun sudah tak terdengar lagi. Aku jadi merasa sedikit aneh.
“oh ya, terima kasih james, aku tidak tahu sampai kapan kau akan terus jadi sahabatku tapi, berhari-hari aku bersyukur bisa memimpikan sahabat sepertimu james, terima kasih.”
Kepala james tertunduk dan kembali mendangak. Senyumnya melebar.
“oh ya, untuk apa kau mengajakku kemari james?” tanyaku. Bukan pertanyaan yang mudah di ucapkan. Aku harus mengubah kata-kata yang mungkin bisa minyinggung perasaannya.
“bukankah jenny yang mengajakku kemari?” jawabnya santai. Aku mengerutkan dahi.
“maksudmu?”
“sama halnya dengan bintang-bintang waktu itu. taman ria tadi, adalah khayalan mu jane” katanya, aku semakin tidak mengerti.
“kau sendiri. Dan tak punya siapa-siapa. Dari situ kau membayangkan bagaimana punya teman, bagaimana caranya bersenang-senang itu?” kata james. Aku hanya menganggukkan kepala.
“inilah mimpimu jenny, kau tak pernah menyangka akan seindah ini bukan? kau bisa membuat dunia seindah ini. Jangan bilang kau tak punya mimpi. Karena dunia yang kau buat, tak akan seindah dunia orang lain.”
Aku mulai mengerti maksud james. Aku masih melihatnya di depanku. Dan akupun merasa aku mengerti. James melambai-lambaikan tangannya padaku. “aku senang bisa berteman denganmu” katanya. Aku pun tersenyum manis.

Mataku terbuka pelan-pelan. Aku mimpi lagi. ada energi positif yang mengalir di tubuhku dan sekarang ataupun esok yang tak ada batasnya.
Dengan langkah penuh arti. Ku goeskan sepeda menuju rumah.


The end

0 komentar:

Popular Posts

About Me

Foto Saya
fire_fire_works
show what you like if you can't play it!!!
Lihat profil lengkapku

Pengikut